ANALISIS DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

PERMODALAN DAN PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO

PERMODALAN

KEBIJAKAN MANAJEMEN DAN DASAR PEMILIHAN KEBIJAKAN ATAS STRUKTUR MODAL

Perseroan menyusun Rencana Permodalan berdasarkan telaah dan penilaian atas kebutuhan kecukupan permodalan yang dipersyaratkan dan mengkombinasikannya dengan tinjauan perkembangan ekonomi terkini. Rencana Permodalan tersebut disusun oleh Direksi sebagai bagian dari Rencana Bisnis Bank dan disetujui oleh Dewan Komisaris. Demikian pula dengan bisnis yang didasarkan pada permodalan dan persyaratan likuiditas Bank. Kebutuhan permodalan tersebut direncanakan dan dikaji secara rutin dengan didukung data-data analisis.

Kebijakan manajemen terkait permodalan tersebut ditujukan untuk memastikan bahwa Perseroan memiliki modal dan struktur permodalan yang kuat untuk mendukung strategi pengembangan ekspansi usaha saat ini dan mempertahankan kelangsungan pengembangan di masa mendatang. Selain itu, kebijakan permodalan ditetapkan untuk memenuhi ketentuan kecukupan permodalan yang ditetapkan oleh regulator serta memastikan agar struktur permodalan Bank telah efisien.

RINCIAN STRUKTUR MODAL

Perseroan telah melakukan perhitungan kecukupan modal berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berlaku, dimana modal yang dimiliki diklasifikasikan dalam 2 Tier, yaitu Modal Tier I dan Modal Tier II. Bank telah mematuhi semua persyaratan kecukupan permodalan yang ditetapkan oleh regulator yaitu mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 11/POJK.03/2016 tanggal 2 Februari 2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 34/POJK.03/2016 tanggal 26 September 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 11/POJK.03/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

Sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 6/POJK.03/2016 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti, maka ruang lingkup kegiatan usaha dan jaringan kantor disesuaikan dengan jumlah modal inti bank. Dengan jumlah modal inti Bank Desember 2018 sebesar Rp6,47 triliun maka Perseroan masuk dalam kelompok BUKU 3 yaitu bank dengan modal inti sebesar Rp5 triliun sampai dengan Rp30 triliun. Dengan masuk ke dalam BUKU 3 maka Perseroan lebih leluasa dalam melakukan pengembangan jaringan dan kegiatan usahanya.

MANAJEMEN RISIKO

Pelaksanaan fungsi manajemen risiko meliputi hal-hal terkait dengan upaya identifikasi, penilaian, pengukuran, evaluasi, monitoring, dan pengendalian risiko termasuk pengembangan teknologi dan sistem informasi manajemen di setiap jenis risiko, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam pengelolaan risiko. Bank senantiasa berupaya meningkatkan pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi, antara lain melalui dukungan beberapa unit kerja yang bersifat permanen maupun komite yang bersifat ad hoc untuk menunjang proses pengendalian risiko. Hal ini diwujudkan dengan adanya Divisi Manajemen Risiko serta beberapa komite seperti Komite Pemantau Risiko, Komite Manajemen Risiko, Assets and Liabilities Committee, Komite Manajemen Risiko, Komite Produk dan Aktivitas Baru, serta Komite Anggaran Bank juga terus berupaya menyempurnakan seluruh ketentuan internal terkait pengelolaan risiko, baik dari sisi kebijakan, pedoman, prosedur maupun pemanfaatan teknologi informasi. Ketentuan internal juga terus disempurnakan sebagai langkah internalisasi atas ketentuan eksternal yang diberlakukan oleh regulator, antara lain terkait dengan Proses Penilaian Kecukupan Modal secara Internal maupun Penilaian Profil Risiko.

PROFIL RISIKO DAN PENGELOLAANNYA

Dalam upaya meningkatkan good corporate governance dan manajemen risiko pada industri perbankan, telah diterbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.18/POJK.03/2016 tanggal 16 Maret 2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum dan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No.34/SEOJK.03/2016 tanggal 1 September 2016 perihal Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum, yang mewajibkan Bank untuk menyampaikan laporan profil risiko triwulanan untuk posisi bulan Maret, bulan Juni, bulan September, dan bulan Desember.

Sebagaimana diamanatkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan terkait penerapan manajemen risiko, Bank menyusun laporan profil risiko triwulanan secara self assessment. Penilaian sendiri profil risiko Bank telah dilakukan sejak posisi Triwulan IV tahun 2011, dimana profil risiko tersebut juga merupakan salah satu faktor penilaian tingkat kesehatan Bank, dengan menggunakan pendekatan risiko (risk based bank rating) baik secara individu maupun konsolidasi, dengan cakupan penilaian meliputi faktor profil risiko (risk profile), tata kelola, rentabilitas (earnings), dan permodalan (capital) untuk menghasilkan peringkat komposit Tingkat Kesehatan Bank sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan tanggal 17 Maret 2017 perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Dari hasil self assessment profil risiko triwulanan yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan hingga posisi Desember 2018, predikat risiko Bank secara keseluruhan berada pada tingkat risiko komposit low to moderate.

RISIKO KREDIT

Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debiturdan/ atau pihak lain (counterparty) dalam memenuhi kewajiban kepada Bank, termasuk Risiko Kredit akibat kegagalan debitur, Risiko konsentrasi Kredit, counterparty credit risk, dan settlement risk. Dalam mengelola risiko kredit, Bank telah memiliki kebijakan dan pedoman perkreditan, yang disempurnakan secara berkala, dengan tetap didasarkan pada prinsip pengelolaan risiko yang independen sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan peraturan eksternal lainnya, dan kebijakan manajemen risiko yang terkait dengan pemberian kredit. Pengelolaan risiko kredit mencakup aktivitas penyaluran kredit serta eksposur risiko kredit Iainnya seperti penempatan, pembelian surat-surat berharga, dan penyertaan, yang dikelola secara komperehensif baik pada tingkat portofolio maupun transaksi.

Bank melakukan evaluasi atas tingkat risiko kredit terkait pemberian fasilitas kepada nasabah atau proyek, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain:

1. Historis dan proyeksi kondisi keuangan, termasuk laporan posisi keuangan, laba rugi, dan arus kas nasabah;

2. Riwayat hubungan kredit;

3. Kualitas, kinerja, dan pengalaman dari pengelolaan nasabah;

4. Sektor industri nasabah

5. Posisi nasabah dalam persaingan di industri sejenis; serta

6. Kondisi ekonomi secara umum

Bank telah menjalankan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko yang mencakup profil risiko kredit secara terintegrasi dalam suatu proses manajemen risiko yang komprehensif. Bank juga melakukan stress test untuk mengetahui peningkatan risiko kredit pada skenario kondisi terburuk. Selain itu, Bank terus mengupayakan peningkatan kesadaran risiko (risk awareness) pada setiap unit kerja, diantaranya dengan pengisian Form Pernyataan Risiko.

Uraian terkait Risiko Kredit dijabarkan sebagai berikut.

* Lain-lain terdiri dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan Papua

* Lain-lain terdiri dari Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan Papua

 

Risiko Kredit Dengan Pendekatan Standar

Uraian terkait Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat dijabarkan dalam tabel berikut.

 

Risiko Kredit Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk)

a. Transaksi Reverse Repo Uraian terkait Transaksi Reverse Repo dijabarkan dalam tabel berikut.

Mitigasi Risiko Kredit dengan Menggunakan Pendekatan Standar

Uraian terkait Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit dan Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit diuraikan sebagai berikut.

 

Uraian terkait perhitungan ATMR Risiko Kredit dengan menggunakan pendekatan standar adalah sebagai berikut.

 

 

a. Eksposur Aset di Neraca

 

b. Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pada Transaksi Rekening Administratif

 

c. Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk)

d. Total Pengukuran Risiko Kredit

RISIKO PASAR

Risiko pasar adalah risiko pada laporan posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Variabel pasar dalam hal ini adalah suku bunga dan nilai tukar. Risiko suku bunga adalah risiko akibat perubahan harga instrument keuangan dari posisi trading book atau akibat perubahan nilai ekonomis dari posisi banking book, yang disebabkan oleh perubahan suku bunga. Risiko nilai tukar adalah risiko akibat perubahan nilai posisi trading book dan banking book yang disebabkan oleh perubahan nilai tukar valuta asing.

Pengelolaan risiko pasar dijalankan berdasarkan kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan produk, jasa, dan aktivitas treasury dan bisnis yang terpapar risiko tersebut. Pengendalian risiko nilai tukar mata uang asing dan risiko suku bunga Bank pada trading book antara lain dilakukan melalui analisis risiko dan limit untuk aktivitas trading seperti transaksi money market, foreign exchange, dan fixed income securities (surat-surat berharga). Selain itu, dilakukan proses mark to market untuk posisi trading book, monitoring posisi devisa neto dan Value at Risk (VaR) atas posisi tersebut.

Uraian terkait Risiko Pasar dengan menggunakan metode standar dijabarkan sebagai berikut.

RISIKO OPERASIONAL

Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.

Metode dan kebijakan dalam pengendalian risiko operasional dilaksanakan di antaranya melalui:

1. Identifikasi, evaluasi dan monitoring terhadap kebijakan, pedoman, dan prosedur pengendalian internal sesuai dengan kondisi perkembangan bisnis perbankan.

2. Pelaksanaan pemisahan fungsi (dual control) selalu dilakukan terhadap aktivitas operasional baik terhadap aktivitas yang bersifat transaksional maupun aktivitas non transaksional.

224
Bukopin Annual Report 2018